blog

Waspada Rabies, Kenali Penyebab Dan Gejalanya

Penyakit ini pastinya sudah tidak asing lagi ditelinga kalian. Bukan cuma berbahaya tapi penyakit ini juga bisa mematikan. Ini  merupakan suatu virus yang disebabkan oleh hewan. Ya, biasanya ini dinamakan rabies. Sebenarnya ini tidak bisa dikatakan penyakit melainkan lebih tepatnya ini adalah sebuah virus. Untuk lebih jelasnya, yuk kita mengenal tentang rabies ini.

Pengertian Dari Rabies

Rabies adalah virus yang dapat menyebabkan peradangan dijaringan otak manusia dan mamalia lainnya. Gejala awal  yang akan ditimbulkan dari virus ini adalah demam dan kesemutan pada bagian yang terserang. Gejala kemudian akan diikuti oleh berbagai gejala lainnya: bersikap kasar, kegembiraan yang tak terkendali, takut air, ketidakmampuan untuk memindahkan bagian-bagian tubuh, kebingungan dan mulai kehilangan kesadaran.

Sejarah Rabies di Indonesia

Rabies di Indonesia pertama kali ditemukan pada kerbau oleh Esser (1884), anjing oleh Penning (1889) dan pada manusia oleh E.V.de Haan (1894) yang ketiganya ditemukan di Jawa Barat. Selanjutnya beberapa tahun kemudian kasus rabies ditemukan di Sumatera Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur (1953), Sumatera Utara (1956), Sumatera Selatan dan Sulawesi Utara (1958), Sumatera Selatan (1959), Aceh (1970), Jambi dan Yogyakarta (1971), Kalimantan Timur (1974), Riau (1975), Kalimantan Tengah (1978), Kalimantan Selatan (1983), Pulau Flores NTT (1997), Pulau Ambon dan Pulau seram (2003).

Dengan tertularnya Bali sebagai daerah wabah baru sejak 1 Desember 2008 melalui Peraturan menteri Pertanian No.1637/2008 maka daerah bebas sampai saat ini adalah NTB, NTT kecuali Pulau Flores, Maluku, Irian Jaya (sekarang Papua), Kalimantan Barat, Pulau Madura dan sekitarnya, Pulau-pulau di sekitar Pulau Sumetera, Jawa Timur, Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Rabies pada manusia telah menimbulkan banyak korban. Dari tahun 1977 hingga 1978 sebelas provinsi mencatat 142 kasus rabies pada manusia. Selama periode 1979-1983 di Indonesia telah dilaporkan 298 kasus rabies dengan rata-rata 60 kasus per tahun.

Penyebaran daerah rabies berjalan terus sampai sekarang. Pada dekade Sembilan puluhan kejadian di Pulau Sumetera per tahun tidak kurang dari 1000 kasus hewan ditemukan menderita rabies. Sedangkan kasus rabies yang dilaporkan di Pulau Flores selama tahun 1997-2005 dari 11.786 jumlah gigitan hewan penular rabies (HPR), sebanyak 149 orang dinyatakan meninggal (1,35%).

Insiden yang terjadi rata-rata per tahun kasus rabies pada manusia memang kecil dibandingkan dengan penyakit menular lainnya namun efek psikologisnya sangat besar terutama pada manusia yang telah digigit anjing dan secara ekonomis sangat merugikan karena dapat mengancam kepariwisataan.

Penyebab Terkenanya Virus Rabies

Suatu gigitan dari hewan yang gila (hewan yang terinfeksi dengan virus rabies ) adalah salah satu penyebab utama dari timbulnya penyakit rabies. Virus ini berasal dari air liur hewan gila dan akan masuk ke dalam tubuh melalui sebuah lubang di kulit, seperti gigitan luka.

Kemungkinan lainnya untuk mendapatkan virus rabies ini juga bisa ditularkan tanpa adanya gigitan, walaupun ini sebenarnya ini masih sangat jarang. Sebagai contoh, eksposur bebas gigitan mencakup inhalasi partikel aerosol dari virus, yaitu ketika hewan yang memiliki virus menjilati mata, hidung, mulut atau kulit rusak seseorang.

Hewan yang berisiko tinggi meyebarkan virus rabies meliputi:

*Kelelawar
*Rakun
*Rubah
*Sigung
*Woodchucks
*Anjing liar

Hewan domestik seperti kucing, anjing dan ternak dapat menjadi gila kalau mereka sampai terkena gigitan dari hewan yang memang sudah memiliki virus rabies, jadi akan sangat penting untuk memvaksinasi mereka terhadap rabies. Baru-baru ini, langkah-langkah telah diambil di beberapa negara untuk mengimunisasi populasi satwa liar yang menggunakan lisan umpan yang mengandung vaksin. Ini adalah secara dramatis telah mengurangi penyebaran domestik pada populasi hewan.

Gejala Yang Terjadi Setelah Terkena Virus Rabies

Lima tahapan manifestasi klinis rabies pada manusia umumnya meliputi masa inkubasi, prodromal, neurologis akut, koma dan kematian (karena masih jarangnya ditemukannya proses penyembuhan). Makin dekat lokasi masuknya virus ke otak, umumnya makin cepat kemunculan gejala dan akan mempercepat resiko kematian pada korban.

Jalan masuk bagi virus ke dalam tubuh adalah melalui luka. Pada awalnya, virus hanya berdiam di sekitar area bekas gigitan atau luka dan menyebar secara perlahan tapi pasti. Proses perkembangan virus rabies pada manusia masih diteliti lebih lanjut.

Virus Lyssa diyakini punya potensi menyerang sistem saraf tepi secara langsung bahkan dapat memperbanyak diri di jaringan otot sekitar area luka. Selanjutnya, virus dapat dengan cepat atau lambat menjalar melalui darah ke otak hingga ke ujung-ujung serabut saraf. Makin dekat lokasi luka ke otak, umumnya makin tinggi potensi keparahannya. Sesampainya di otak, pada tingkat lanjut, virus akan memperbanyak diri kembali dan menyebar melalui sistem persarafan, kelenjar, hingga seluruh organ tubuh.

Lama waktu sejak mulai tergigit hingga muncul gejala bervariasi dari satu penderita dengan penderita lainnya. Masa inkubasi ini lebih bervariasi lamanya dibanding penyakit infeksi akut lainnya, bisa harian sampai tahunan. Namun, rata-rata masa inkubasi membutuhkan waktu 3-12 minggu atau 1-3 bulan.

Di area gigitan dapat terjadi kerusakan jaringan kulit, otot, pembuluh darah dan juga saraf. Beberapa gejala umum atau tidak spesifik yang bisa ditemukan pada fase prodromal adalah sebagai berikut:

*Nyeri, bengkak, rasa terbakar, rasa gatal di sekitar luka atau cakaran
*Demam
*Nyeri pada kepala
*Lemas, lemah, lelah, lesu
*Nafsu makan menurun
*Mual, muntah

Pada tahap virus menyerang area saraf penerima rangsang dan otot, maka akan dapat terjadi fase neurologis akut, antara lain:

  • Kesemutan
  • Cemas
  • Reaksi berlebihan terhadap rangsangan tertentu, misalnya sulit minum hingga takut minum karena akan mengalami kejang pita suara saat terkena air, ketakutan berlebihan pada cahaya atau fotofobia, hembusan angin atau aerofobia, mendengar suara keras, mendengar suara gemericik air dan bahkan takut berlebihan saat melihat air atau air minum yang disebut hidrofobia
  • Produksi air liur meningkat atau hipersalivasi
  • Produksi air mata meningkat atau hiperlakrimasi
  • Gangguan tidur atau insomnia
  • Kelumpuhan organ tubuh seperti anggota gerak, saluran cerna atas hingga sulit menelan, bahkan gangguan sistem pernapasan
  • Penurunan kesadaran
  • Kejang

Sampai kondisi ini, pasien rabies serupa dengan penderita penyakit radang otak, gangguan kejiwaan atau gangguan otak lainnya. Terganggunya fungsi vital tubuh dapat berujung pada keadaan koma dan kematian. Kekakuan pada otot dapat terjadi hingga penderita meninggal. Bahkan, kelumpuhan dapat mendominasi pada fase terminal ini.

Dengan gejala-gejala di atas yang didukung riwayat gigitan hewan penular rabies, dugaan kasus rabies akan selalu dipertimbangkan.
Untuk pencegahan, perhatikan juga gejala-gejala binatang atau hewan yang terinfeksi rabies seperti:

  • Banyak mengeluarkan liur atau hipersalivasi
  • Ekornya terselip di antara kedua kaki belakang
  • Sangat agresif

Beberapa Cara Penularan Dari Virus Rabies

Setelah terkena gigitan dan terkena virus rabies ini. Bukan berarti orang yang normal tidak tertular dari virus ini, Beberapa potensi dalam menyebarkan virus ini antara lain:

1. Melalui udara

Udara yang mengandung partikel virus rabies dapat terhirup oleh manusia lalu masuk melalui selaput lendir dalam rongga mulut atau hidung dan menginfeksi sistem pernafasan. Udara merupakan media paling mudah sebagai cara penularan rabies terhadap manusia. Contohnya gua tempat kelelawar atau menyentuh dan berinteraksi dengan bangkai hewan yang mati dalam kondisi terinfeksi virus rabies.

2. Melalui gigitan

Melalui gigitannya hewan apapun yang telah terinfeksi rabies dapat cepat memindahkan virus rabiesnya untuk segera masuk dalam jaringan kulit yang telah luka dan terkoyak melalui air liurnya. Cara penularan rabies melalui gigitan dapat menyebabkan gangguan saraf dan kerusakan sumsum tukang belakang dan menuju jaringan otak.

3. Terkena cairan liur

Cara penularan rabies bukan hanya melalui udara ataupun gigitan hewan saja melainkan bisa terjadi ketika seseorang memiliki luka terbuka yang tidak dibalut perban kemudian terkena air liur hewan yang telah terinfeksi virus rabies. Walaupun hewan tersebut tidak melakukan agresi penyerangan berupa cakaran ataupun gigitan. Cairan liur tetap dapat masuk meresap kebagian luka dan langsung menginfeksi jaringan luka tersebut untuk kemudian mempengaruhi otot otot gerak.

4. Dari manusia ke manusia

Virus rabies tidak serta merta hanya ditularkan melalui udara, Hewan ataupun terkena air liur hewan secara tidak sengaja melainkan dapat pula melalui cara penularan rabies antara satu manusia ke manusia lain. Manusia yang telah terjangkit rabies dapat menularkan virusnya melalui air liurnya. Maka hindarilah memakai barang barang secara bergantian dengan penderita rabies atau menyantap makanan dalam satu sendok yang sama.

Tes Dan Diagnosis Dari Virus Rabies

Pada saat terkena gigitan, biasanya tidak ada cara untuk tahu dengan pasti apakah hewan itu gila atau apakah hewan itu tidak memiliki infeksi.

Tes laboratorium hanya akan menunjukkan antibodi, tapi reaksi virus ini tidak muncul sampai virus ini benar-benar berkembang. Virus ini mungkin terisolasi dari air liur atau melalui biopsi kulit. Namun, pada saat diagnosis telah dapat dikonfirmasi, mungkin sudah terlalu terlambat untuk mengambil tindakan.

Untuk alasan ini, pasien biasanya akan mulai kursus profilaksis pengobatan sekaligus, tanpa menunggu diagnosis dikonfirmasi.

Jika seseorang mengembangkan gejala virus ensefalitis yang disebabkan dari gigitan hewan, mereka harus diperlakukan seolah-olah mereka mungkin memiliki rabies. Ini dimasudkan untuk jika sikorban memang terkena rabies maka mereka dapat ditangani dengan cepat.

Pengobatan Untuk Virus Rabies

Jika seseorang digigit atau dicakar oleh hewan yang mungkin memiliki rabies  atau jika hewan menjilat luka yang terbuka, maka kalian harus segera mencuci setiap gigitan dan cakaran selama 15 menit dengan air sabun, yodium povidone atau kalian juga bisa menggunakan deterjen. Ini mungkin akan meminimalkan jumlah partikel virus.

Kemudian kalian harus mencari bantuan medis segera.

Setelah paparan dan sebelum gejala dimulai , serangkaian suntikan akan dapat mencegah virus dari berkembang. Hal ini biasanya sangat efektif.

Strategi meliputi:

Dosis yang bertindak cepat dalam menurunkan kadar virus rabies: Harus disuntikkan sesegera mungkin, dekat dengan luka yang tergigit, hal ini akan dapat mencegah virus dari menginfeksi individu.

Seri vaksin rabies: ini akan disuntikkan ke lengan selama 2 sampai 4 minggu. Ini akan melatih tubuh untuk melawan virus setiap kali ia menemukan itu.

Tidak mudah untuk mengetahui kalau seseorang memang terkena virus atau tidak. Tapi inilah hal yang paling aman untuk menghindari yang terburuk.

Sejumlah kecil mungkin ada yang bertahan dari virus rabies ini, tapi kebanyakan kasus berakibat fatal meskipun masih memasuki tahap gejala. Ini dikarenakan masih belum adanya pengobatan yang efektif.

Seseorang dengan gejala ini harus dibuat senyaman mungkin. Mereka juga akan memerlukan pernafasan bantuan.

Nah, itulah tadi penjelasan singkat tentang virus rabies yang disebabkan dari hewan. Bagi kalian yang memiliki hewan peliharaan sebaiknya selalu memberikan vaksin padanya dan sebaiknya kalian juga harus menghindari anjing liar karena kita gak akan tahu apakah mereka terinfesi atau tidak.