pengetahuan

Apa Itu Claustrophobia Dan Bagaimana Gejalanya? Ini Penjelasannya

Pernah ngerasain panik atau cemas saat berada di suatu tempat sempit? Hal yang sungguh tidak wajar bukan? Tetapi bisa jadi kamu mengalami claustrophobia, lalu phobia apa itu sebenarnya? Untuk mengetahui lebih jelasnya lagi, mari kita simak sama-sama.

Apa Itu Claustrophobia?

Claustrophobia adalah ketakutan tidak beralasan pada ruang tertutup atau ruang sempit. Wajar untuk merasa takut terjebak ketika ada ancaman atau bahaya, namun orang-orang yang memiliki claustrophobia menjadi takut dalam situasi di mana tidak ada bahaya yang jelas atau realistis. Ketika pergi ke luar, mereka akan menghindari ruang tertutup atau sempit, seperti lift, terowongan dan toilet umum.

Image result for Claustrophobia

Phobia ruang tertutup ini pada umumnya adalah hasil dari pengalaman masa lalu seseorang (biasanya pada masa kanak-kanak) yang menyebabkan mereka mengasosiasikan ruang kecil dengan perasaan panik atau berada dalam bahaya. Contoh jenis-jenis pengalaman masa lalu, yaitu:

  • Jatuh ke dalam kolam renang dan tidak bisa berenang
  • Berada di keramaian dan terpisah dengan orangtua atau kelompok
  • Merangkak ke dalam terowongan lalu tersesat atau terjebak

Image result for cara mengobati Claustrophobia

Mereka yang menderita penyakit ini menganggap dinding yang berada di dekat mereka seolah-olah ingin menjepit tubuh dan hal tersebut membuat mereka merasa panik dan cemas. Selain itu perilaku yang diikuti dari orangtua dan teman sebaya juga dapat menjadi penyebab claustrophobia pada seseorang. Contohnya, ketika seorang yang memiliki claustrophobia memiliki anak, maka anak akan mengamati perilaku orangtua mereka dan akan mengembangkan ketakutan yang sama.

Gejala

Hal yang paling umum terlihat adalah penderita akan merasa panik, selain itu mereka juga akan mengalami stres dan frustasi. Berikut ini adalah gejala lain dari penderita claustrophobia:

Masalah pernapasan

Orang yang mengalami claustrophobia umumnya mengalami masalah pernapasan, termasuk sesak napas atau hiperventilasi yang mirip dengan serangan panik.

Suka menghindar

Orang dengan claustrophobia sering menghindari pergi ke tempat-tempat tertentu atau acara tertentu untuk mengurangi kemungkinan berada di ruang kecil atau tertutup.

Gelisah

Tanda lainnya adalah perasaan cemas dan gelisah meskipun hanya membayangkan berada di ruang kecil atau tertutup.

Perubahan suasana hati

Orang dengan claustrophobia cenderung rentan mengalami perubahan mood mendadak seperti panik atau rasa takut saat berada di ruang kecil atau tertutup.

Sering mendadak sakit

Penderita bisa mengalami sakit yang tiba-tiba seperti mual, muntah dan detak jantung yang cepat saat berada di ruang yang sempit.

Cara Mengatasi

Untuk mengatasi Klaustrofobia (Claustrophobia), ada beberapa metode pengobatan yang bisa dilakukan. Salah satunya adalah dengan melakukan terapi perilaku kognitif. Selain itu, kita juga dapat melakukan pendekatan holistik yang dapat mencakup terapi pengobatan yang tepat oleh seorang psikolog, serta penggunaan teknik relaksasi atau metode pengobatan lain seperti hipnoterapi. Dukungan dari keluarga dan teman-teman juga sangat penting untuk orang yang menderita claustrofobia.

Hal ini mungkin terdengar aneh, namun sering terpapar pada situasi yang memicu phobia akan membuat seseorang berlatih untuk mengatasi kecemasannya tersebut. Agar latihan lebih efektif, seorang konselor sebaiknya turut mendampingi untuk memberikan saran dan masukan. Konselor juga akan mengajarkan teknik relaksasi dan visualisasi untuk mengendalikan rasa takut.

Image result for penyakit claustrophobia

Ada teori lain dibalik penyebab seseorang mengalami claustrophobia, yaitu:

Amygdala lebih kecil. Amygdala adalah bagian kecil dari otak yang digunakan untuk mengontrol bagaimana tubuh memproses rasa takut. Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Psychiatry and Clinical Neuroscience, Fumi Hayano dan rekan menemukan bahwa orang yang menderita gangguan panik memiliki amygdala lebih kecil dari normal. Ukuran yang lebih kecil ini bisa memengaruhi bagaiman tubuh memproses panik dan kecemasan.

Phobia genetik. Ada juga teori yang mengatakan bahwa phobia berkembang lebih pada tingkat genetik daripada psikologi. Penelitian di belakang teori ini menunjukkan bahwa phobia ruang tertutup dan phobia lainnya merupakan mekanisme evolusi bertahan hidup pasif. Sebuah naluri bertahan hidup terkubur dalam kode genetik kita yang dulunya penting untuk kelangsungan hidup manusia, namun sudah tidak lagi diperlukan. Tim dari Jerman dan Inggris menulis dalam jurnal Translational Psychiatry bahwa kecacatan gen tunggal mungkin memberikan kontribusi untuk pengembangan claustrophobia.

Maka dari itu, ketika kamu melihat seseorang mengalami beberapa gejala seperti serangan panik atau merasa takut terperangkap di dalam tempat tertentu, berarti seseorang tersebut disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter. Dokter mungkin meminta seseorang yang mengalami gejala kecemasan tersebut untuk memberikan penjelasan tentang gejala yang ia alami untuk didiagnosis dan memastikan apakah seseorang tersebut benar benar mengalami claustrophobia atau tidak. Semoga artikel ini bermanfaat.