info

Hipotermia, Penyakit Umum Yang Sering Diderita Para Pendaki Gunung

Di zaman sekarang ini, mendaki gunung menjadi salah satu kegiatan yang banyak digemari oleh banyak orang. Tapi terkadang para pendaki gunung sering lupa mempersiapkan diri dengan benar untuk perjalanan mencapai puncak. Rata-rata mereka mungkin hanya bersemangat untuk melihat pemandangan yang indah saja dan ingin menunjukkan kepada orang lain bahwa dirinya sudah berhasil mencapai puncak. Tapi, apabila pendakian gunung tidak disertai dengan persiapan yang matang, berbagai masalah bisa datang mengintai mereka. Mulai dari terjatuh, sakit hingga hipotermia.

Hipotermia merupakan salah satu kondisi serius ketika mendaki gunung. Jika terlambat mendapatkan penanganan, orang yang mengalaminya bisa terancam bahaya. Bahkan pendakian yang sudah dipersiapkan secara matang pun masih kemungkinan menemukan masalah.

Nah, bagi kalian yang pernah menonton film Titanic, pasti kalian ingat benar sebuah adegan tokoh pria yang diperankan oleh Leonardo Di Caprio meninggal dunia setelah kedinginan di laut yang bersuhu dingin. Di dalam peristiwa nyata tenggelamnya kapal ini, banyak korbannya yang meninggal karena kedinginan. Hal ini disebabkan karena mereka harus berenang di laut yang suhunya mencapai minus 2 derajat celsius, kondisi tersebutlah yang disebut dengan hipotermia.

Hipotermia hampir sering menyerang para pendaki gunung Himalaya. Hal ini biasanya disebabkan oleh paparan suhu dingin yang berlangsung lama pada tubuh. Hipotermia diawali dari gejala biasa seperti kedinginan, badan gemetar menahan dingin bahkan sampai gigi berkerotakan karena tidak kuat lagi menahan dingin. Bila tubuh penderita basah, makan serangan hiportemia akan semakin cepat. Jika badan basah kuyup kehujanan dan angin bertiup kencang, maka potensi hipotermia akan semakin lebih cepat.

Apa Itu Hipotermia?

Hipotermia adalah suatu kondisi darurat medis di mana tubuh tidak sanggup mengembalikan suhu panas tubuh karena suhunya terlalu cepat turun. Kondisi ini membuat suhu tubuh anda mencapai suhu yang sangat rendah di bawah 35°C. Ketika suhu tubuh anda turun terlalu rendah, jantung, sistem saraf, dan organ tubuh lain tidak dapat bekerja secara optimal. Jika tidak segera ditolong, hipotermia bisa menyebabkan kegagalan total pada fungsi jantung dan sistem pernapasan dan akhirnya mengarah ke kematian.

Penyebab dari hipotermia adalah cuaca atau air yang sangat dingin. Namun terlalu lama berada dalam lingkungan atau ruangan apapun yang lebih dingin daripada suhu tubuh anda juga menjadi penyebabnya. Khususnya apabila anda tidak mengenakan pakaian yang bisa menghangatkan tubuh, atau ketika anda tidak bisa mengatur suhu di ruangan tersebut.

Apa Saja Gejala Yang Timbul Akibat Hipotermia?

Gejala awal yang dapat terlihat saat tubuh mulai kedinginan adalah menggigil. Menggigil merupakan suatu mekanisme pertahanan tubuh untuk menghasilkan panas sehingga suhu tubuh kembali normal. Sedangkan gejala hipotermia umumnya berkembang secara perlahan-lahan sehingga sering tidak disadari oleh pengidapnya. Orang yang mengalami hipotermia ringan akan menunjukkan gejala yang meliputi menggigil yang disertai rasa lelah, lemas, pusing, lapar, mual, kulit yang dingin atau pucat, dan napas yang cepat.

Jika suhu tubuh terus menurun hingga di bawah 32°C, tubuh pengidap hipotermia biasanya tidak bisa memicu respons menggigil lagi. Ini mengindikasikan tingkat keparahan hipotermia sudah memasuki tahap menengah hingga parah. Pengidap serangan hipotermia tingkat menengah (suhu tubuh 28-32°C) akan mengalami gejala-gejala berupa:

  • Mengantuk atau lemas.
  • Bicara tidak jelas atau bergumam.
  • Linglung dan bingung.
  • Kehilangan akal sehat, misalnya membuka pakaian meski sedang kedinginan.
  • Sulit bergerak dan koordinasi tubuh yang menurun.
  • Napas yang pelan dan pendek.
  • Tingkat kesadaran yang terus menurun.

Apabila tidak segera ditangani, suhu tubuh akan makin menurun dan berpotensi memicu hiportemia yang parah dengan suhu tubuh 28°C ke bawah. Kondisi ini ditandai dengan gejala-gejala berikut:

  • Pingsan.
  • Denyut nadi yang lemah, tidak teratur, atau bahkan sama sekali tidak ada denyut nadi.
  • Pupil mata yang melebar.
  • Napas yang pendek atau sama sekali tidak bernapas.
  • Jika anak atau ada anggota keluarga anda yang mengalami gejala-gejala tersebut, bawalah secepatnya ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan darurat.

Cara Mencegah Terjadinya Hipotermia

Tanpa dilandasi pemahaman yang baik, kondisi seorang pendaki yang terkena sergapan hipotermia mulai stadium ringan hingga berat memang terkadang sulit diketahui. Tak jarang, dalam kondisi si pendaki “sadar tapi sebetulnya masih hidup” dianggap seperti kerasukan mahluk halus atau kesurupan.

Nah, untuk mencegah terjadinya kejadian seperti itu, berikut di bawah ini ada beberapa cara yang tepat yang bisa dilakukan saat mendaki:

(A). Pakailah Pakaian Yang Sesuai Saat Mendaki

Jaket polar, jaket anti angin, penutup kepala, sarung tangan, kaos kaki tebal, sepatu, celana yang hangat dan kuat dan lainnya. Jika anda mendaki pada siang hari, anda cukup mengenakan kaos panjang karena suhu tidak terlampau dingin, namun saat malam hari anda memerlukan semua benda tersebut untuk menghangatkan tubuh.

(B). Hindari Kontak Langsung Terhadap Air

Saat hujan atau melintasi sungai, usahakan agar anda tidak terkena air secara berlebihan. Gunakanlah mantel saat hujan turun, ketika melintasi sungai, sebisa mungkin carilah bebatuan yang tidak tergenang air untuk digunakan menuju seberang. Air yang menempel pada tubuh akan menyerap panas dari tubuh, oleh karena itu hindarilah kontak langsung dengan air saat pendakian

(C). Pastikan Perut Sudah Terisi

Ketika perut anda kosong alias lapar, maka tubuh tidak punya energi untuk memanaskan tubuh. Usahakan untuk selalu membawa cemilan yang mengandung banyak kalor, seperti coklat, permen atau cemilan lainnya yang manis dan banyak mengandung kalor.

(D). Jangan Memakai Bahan Jeans

Sudah bukan hal aneh lagi ketika banyak pendaki modis sekarang ini yang memakai celana jeans atau jaket jeans. Okelah, mungkin dengan memakai jeans mereka merasa lebih nyaman karena sudah terbiasa mengenakannya setiap hari, akan tetapi bahan jeans adalah bahan yang berat, murah meresap air dan susah kering. Hal ini akan sangat merepotkan ketika hujan deras, sehingga celana jeans anda menjadi basah kuyup. Gunakanlah celana dengan bahan kuat dan mudah kering, kalau bisa yang anti air atau anti angin.

(E). Jangan Biarkan Pakaian Basah Menetap di Tubuh

Pakaian basah sangat mudah memicu terjadinya hipotermia, maka dari itu sangat penting untuk tidak membiarkan pakian yang basah selalu menetap di tubuh. Apabila baju yang anda kenakan basah, segeralah ganti dengan pakaian yang kering. Sebelum memakai pakaian kering, keringkan dahulu badan anda dengan lap kering atau kanebo. Lap Kanebo penting dalam pendakian, daya resap yang tinggi dan mudah diperas menjadikan lap kanebo sangat direkomendasikan dibawa ke gunung.

(F). Jangan Tertidur Dalam Perjalanan

Saat naik gunung pada malam hari, selain oksigen yang kurang, kita juga merasakan mengantuk karena berjalan pada malam hari merupakan perjalanan yang menentang pola tidur kita, terutama yang terbiasa beraktivitas pada malam hari. Terkadang dengan pakaian seadanya, para pendaki beristirahat kemudian tertidur di tempat yang terbuka dan rawan hembusan angin kencang. Hindari mendaki gunung saat malam, jika memang tepaksa, pastika anda tidak mengantuk. Bila anda mengantuk ketika perjalanan, segeralah beristirahat dengan mendirikan tenda terlebih dahulu.

Hal Yang Harus Dilakukan Ketika Hipotermia Muncul

Mendaki gunung, apalagi di musim penghujan memang memerlukan perhatian khusus, selain medan yang menjadi licin atau longsor, gejala-gejala hipotermia umumnya kerap terjadi pada pendaki dan berkembang secara perlahan-lahan sehingga sering tidak disadari oleh pengidapnya. Oleh sebab itu, sesama anggota tim harus saling memperhatikan satu sama lain.

Tapi pasti kalian bingungkan jika hal tersebut terjadi kepada salah satu teman anda, nah untuk itu di bawah ini ada beberapa tips yang bisa kalian lakukan ketika teman kalian mengalami hipotermia saat mendaki.

1. Jangan Panik

Pertolongan pertama dapat dilakukan dengan memberi oxycan sebagai alat bantu nafas, menenangkan pengidap dan tidak membantunya gugup menjadi poin penting.

2. Jangan Menggosok Tangan

Menggosok tangan atau kaki pengidap juga sebaiknya dihindari. Gerakan berlebihan dapat memicu serangan jantung. Telapak tangan kita yang digosok, jika sudah hangat, tempelkan ke telinga pengidap atau bagian lainnya yang paling dingin.

3. Tutupi Tubuh Dengan Jaket atau Selimut

Pengidap hipotermia harus memakai pakaian dobel atau jaket ekstra agar suhu tubuhnya kembali normal, di sini kesetiakawanan diuji. Laki-laki biasanya muncul sebagai pahlawan merelakan jaketnya dan berkaos oblong biasa demi sang wanita agar tidak hipotermia. Padahal mungkin merekapun kedinginan.

4. Berikan Minuman Hangat

Setelah itu, berikan minuman hangat kepadanya sebagai upaya untuk menaikan suhu tubuh yang menurun, namun perlu diingat, jangan sampai memberikan minuman yang mengandung kafein dan alkohol karena hal itu bisa mengakibatkan hal yang tidak diinginkan.

5. Berikan Makanan yang Mengandung Kalori Tinggi

Dalam usaha mengembalikan suhu tubuh yang menurun, tubuh penderita sangat membutuhkan kalori yang cukup banyak, oleh sebab itu bantulah penderita dengan memberinya asupan kalori melalui makanan yang mengandung kalori tinggi, seperti oatmeal, kurma, madu, gula merah atau makanan yang lainnya.

6. Ajak Penderita Untuk Bergerak

Setelah berhasil menaikkan suhu tubuhnya, sekarang ajaklah penderita untuk bergerak supaya suhu tubuhnya semakin naik dan suhu panas di dalam tubuhnya kembali. Namun ingat, jangan sampai penderita bergerak terlalu banyak sehingga tubuh penderita berkeringat karena keringat bisa menjangkit kembali hipotermia kepada penderita.

7. Kompres Dengan Air Hangat

Kompres tubuh penderita dengan handuk kering yang sudah dihangatkan atau botol yang berisi air hangat, kompres harus ditempatkan di leher, dada dan selangkangan, jangan ditempatkan di bagian kaki dan tangan karena bisa mengakibatkan darah dingin terdorong ke paru-paru, jantung dan otak.

8. Membuat Api Unggun

Hal terakhir saat penderita sudah berada dalam kondisi normal, anda bisa membuat api unggun di dekat tubuh penderita supaya udara di sekitar tidak terlalu dingin.

Menghindari dan membentengi diri dari udara dingin akan membantu kita untuk mencegah serangan hipotermia yang berpotensi fatal. Oleh karena itu, bagi anda yang tidak menginginkan hal seperti di atas terjadi, haruslah menghindari cuaca dingin. Hal ini dikarenakan penyakit tersebut cukup berbahaya dan membutuhkan penanganan yang cepat.