info

Mengenal Lebih Jauh Tentang Kleptomania Dan Cara Mengatasinya

Kamu gak butuh suatu benda dan sebenarnya kamu sanggup untuk membeli benda tersebut, akan tetapi muncul rasa untuk mencurinya. Kira-kira apa sih yang terjadi? Kondisi tersebut itu dinamakan kleptomania, seseorang yang mengidap kleptomania tidak dapat menahan hasrat untuk mencuri benda yang ada disekitarnya. Nah, untuk lebih jelasnya lagi, mari kita simak artikel di bawah ini.

Apa Itu Kleptomania?

Kleptomania merupakan kondisi yang termasuk ke kelompok gangguan kendali impulsif, yaitu ketika penderita tidak dapat menahan diri untuk mengutil atau mencuri. Sebagian besar penderita kleptomania adalah perempuan. Biasanya gangguan ini mulai terbentuk di masa remaja atau ada juga yang ketika memasuki usia dewasa. Para penderita kleptomania kerap melakukan aksinya di tempat umum, seperti di warung, toko dan supermarket. Sebagian ada juga yang mengutil dari rumah teman.

Gangguan ini munculnya tak cuma sekali, melainkan terus-menerus. Berbeda dengan orang yang gemar mengutil atau mencuri, orang dengan kleptomania tidak punya sasaran atau rencana yang matang. Keinginan untuk mencuri timbul begitu saja dan sulit sekali hilangnya.

Menurut para ahli kondisi ini sangat besar kaitannya dengan gangguan obsesif-kompulsif (OCD). Pasalnya, orang dengan kleptomania mengalami kelainan pada saraf dan sirkuit otak yang mengatur sistem reward (ganjaran). Letaknya di bagian depan dan tengah otak manusia. Pola pemikiran orang dengan kleptomania juga mirip dengan orang yang mengalami kecanduan.

Tanda-Tanda Kleptomania

Pencurian tidak selalu dilatari motif ekonomi. Setidaknya demikian terjadi pada seseorang yang mengidap kleptomania, tindakan pencurian oleh pengidap kleptomania dilakukan secara tiba-tiba. Ada beberapa tanda-tanda seseorang yang mengidap kleptomania seperti berikut ini:

  • Keinginan tak tertahankan untuk melakukan pencurian. Dapat dilakukan di lokasi ramai seperti supermarket atau toko, maupun di tempat pribadi seperti rumah teman atau rekan kerja.
  • Sebelum tindakan mencuri, pengidap kleptomania merasakan ketegangan yang meningkat.
  • Merasakan kelegaan atau kenikmatan setelah mencuri. Sekaligus merasa malu, bersalah, menyesal, benci kepada diri sendiri hingga rasa takut akan ditangkap.
  • Barang-barang curian kleptomania biasanya diletakkan, disimpan atau diberikan lagi pada orang lain. Tak jarang barang curian itu dikembalikan kepada pemiliknya secara diam-diam.
  • Keinginan mencuri dari pengidap kleptomanania dapat timbul dan hilang. Tak jarang penderita merasa terperangkap pada desakan untuk mencuri dan tindakan pencurian berulang.
  • Pencurian kleptomania tidak didasarkan alasan halusinasi, delusi, marah ataupun balas dendam.

Penyebab Kleptomania

Penyebab kleptomania belum diketahui secara pasti. Kondisi ini diperkirakan terbentuk akibat adanya perubahan komposisi kimia di dalam otak atau hasil dari gabungan perubahan di dalam otak. Sebagai contoh, munculnya perilaku impulsif (salah satunya kleptomania) terjadi akibat menurunnya kadar serotonin (hormon yang bertugas mengatur emosi). Perilaku impulsif ini mungkin juga terkait dengan ketidakseimbangan sistem opioid otak sehingga keinginan untuk mencuri tidak bisa ditahan.

Selain itu, diperkirakan juga berhubungan dengan gangguan adiksi dimana terjadi pelepasan dopamin yang menjadikan pelaku merasa senang atas perbuatannya dan cenderung untuk ketagihan. Diperkirakan seseorang yang memiliki riwayat penyakit psikologis lainnya, seperti gangguan kepribadian, gangguan bipolar dan gangguan kecemasan rentan mengalami kleptomania. Risiko untuk menderita kondisi ini juga akan meningkat bagi mereka yang pernah mengalami cedera di kepala dan mereka yang memiliki keluarga dekat penderita kleptomania.

Cara Mengatasi Kleptomania

Kleptomania tergolong gangguan mental yang tidak dapat diremehkan. Jika dibiarkan tanpa penanganan tepat, kleptomania dapat memicu penderitaan bagi pengidap maupun keluarganya. Sebagian pengidap kleptomania menahan rasa malu akibat gangguan tersebut, bahkan takut akan ditangkap dan dipenjara sehingga tidak berani mencari bantuan profesional.

Meski hingga kini belum ada obat yang dapat menyembuhkan, namun penanganan psikoterapi atau obat dapat membantu menekan tindakan pencurian secara kompulsif oleh pengidap. Kleptomania umumnya ditangani melalui terapi psikologi oleh ahli terkait serta dikombinasikan dengan pemberian obat. Namun yang lebih penting dalam pengobatan kondisi ini adalah keinginan kuat pasien untuk sembuh dan kebersediaannya mengikuti tiap saran yang dokter berikan. Apabila pasien berusaha kuat untuk melawan dorongan yang timbul dari dalam dirinya, bukan hal yang mustahil kleptomania bisa dihilangkan dan tidak kambuh lagi. Selain itu dukungan dan semangat yang diberikan orang-orang terdekat terhadap kesembuhan pasien sangat besar perannya.

Jenis terapi yang umumnya diterapkan pada penanganan kleptomania adalah terapi perilaku kognitif. Melalui metode ini, pasien akan diberikan gambaran mengenai perbuatan yang dia lakukan serta akibat yang bisa diterima, seperti berurusan dengan pihak berwajib. Melalui gambaran tersebut, pasien diharapkan bisa menilai secara objektif dan menyadari bahwa pencurian yang dia lakukan merupakan tindakan salah. Selain gambaran diri, pasien juga akan diajarkan untuk melawan atau mengendalikan keinginan kuatnya dalam mencuri, misalnya dengan teknik relaksasi.

Serangkaian obat juga umumnya diberikan untuk melengkapi terapi psikologis bagi pengidap kleptomania. Obat yang digunakan antara lain fluoxetine, fluvoxamine, paroxetine dan sertraline yang dapat meningkatkan kadar serotonin pada otak. Sama seperti terapi kognitif, pemberian obat ini bertujuan menurunkan dorongan dan rasa senang yang timbul dari diri penderita kleptomania untuk mencuri.

Nah, demikianlah penjelasan kleptomania di atas tersebut. Penyakit ini penting untuk segera diatasi, mengingat risiko moral, sosial dan hukum yang dapat mengancam pengidap kleptomania di masyarakat. Semoga setelah membaca artikel ini, wawasan kamu dapat bertambah menjadi lebih luas lagi ya. Sampai ketemu lagi di artikel berikutnya, see you…