info

Mengenal Lebih Jauh Tentang Psikotropika

Hayo siapa coba yang suka mengkonsumsi obat-obatan? Ada yang tahu nggak nih kalau ternyata obat-obat itu tidak sembarangan di minum aja ya. Obat-obatan itu mempunyai efek sampingnya lho bahkan di dalam obat tersebut juga mengandung zat kimia lho. Maka dari itu, banyak orang yang mengkonsumsi obatan terlalu berlebihan sering berakibat fatal.

Obat yang membuat Tora dan Mike di tangkap ini memang bukanlah jenis narkoba, Dumolid hanyalah obat penenang yang sering diresepkan sebagai terapi jangka pendek guna mengobati gangguan tidur (insomnia) parah, kejang, gangguan kecemasan dan depresi. Sama layaknya seperti narkoba, Dumolid juga dikonsumsi agar mendapatkan efek lebih konsentrasi dan meningkatkan kepercayaan diri. Kira-kira seperti apa bahaya dari obat ini, yuk kita simak sama-sama.

Apa Sih Itu Psikotropika?

Psikotropika adalah suatu obat yang termasuk dalam golongan narkoba (narkotika dan obat-obat berbahaya). Psikotropika adalah zat/obat yang dapat menurunkan aktivitas otak atau merangsang susunan syaraf pusat dan menimbulkan kelainan perilaku, disertai dengan timbulnya halusinasi (mengkhayal), ilusi, gangguan cara berpikir, perubahan alam perasaan dan dapat menyebabkan ketergantungan serta mempunyai efek stimulasi (merangsang) bagi para pemakainya. Banyak jenis jenis psikotropika yang sering disalahgunakan.

Jenis, Dampak dan Bahayanya

Narkoba adalah singkatan dari narkotika dan obat/bahan berbahaya. Selain “narkoba”, istilah lain yang diperkenalkan khususnya oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia adalah Napza yang merupakan singkatan dari Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif. Semua istilah ini, baik “narkoba” ataupun “napza”, mengacu pada kelompok senyawa yang umumnya memiliki risiko kecanduan bagi penggunanya. Menurut pakar kesehatan, narkoba sebenarnya adalah senyawa-senyawa psikotropika yang biasa dipakai untuk membius pasien saat hendak dioperasi atau obat-obatan untuk penyakit tertentu. Namun kini persepsi itu disalahartikan akibat pemakaian di luar peruntukan dan dosis yang semestinya.

1. MERAMFETAMINE (metilamfetamina atau desoksiefedrin), disingkat met dan dikenal di Indonesia sebagai sabu-sabu. Metamfetamine adalah obat psikostimulansia dan simpatomimetik. Dipasarkan untuk kasus parah gangguan hiperaktivitas kekurangan perhatian atau narkolepsi dengan nama dagang Desoxyn, juga disalahgunakan sebagai narkotika. “Crystal meth” adalah bentuk kristal yang dapat dihisap lewat pipa. Metamfetamina pertama dibuat dari efedrina di Jepang pada 1893 oleh Nagai Nagayoshi. Metamfetamin dikenal sebagai “meth” atau “ice”, adalah obat psychostimulant dan sympathomimetic.

2. KOKAIN adalah senyawa sintesis yang memicu metabolisme sel menjadi sangat cepat. Kokain merupakan alkaloid yang didapatkan dari tumbuhan koka Erythroxylon coca, yang berasal dari Amerika Selatan. Daunnya biasa dikunyah oleh penduduk setempat untuk mendapatkan “efek stimulan”. Saat ini kokain masih digunakan sebagai anestetik lokal, khususnya untuk pembedahan mata, hidung dan tenggorokan karena efek vasokonstriksif-nya juga membantu. Kokain diklasifikasikan sebagai suatu narkotika, bersama dengan morfin dan heroin karena efek adiktif.

Kokain adalah kristal tropane alkaloid yang didapat dari daun tumbuhan coca. Efeknya adalah stimultan yang menekan sistem saraf utama menimbulkan sensasi yang disebut euphoric sense dan kegembiraan juga dipercaya meningkatkan energi efek-efek inilah yang menyebabkan zat ini cukup populer dan banyak digunakan.

3. HEROIN atau diamorfin (INN) adalah sejenis opioid alkaloid. Heroin adalah derivatif 3.6-diasetil dari morfin (karena itulah namanya adalah diasetilmorfin) dan disintesiskan darinya melalui asetilasi. Bentuk kristal putihnya umumnya adalah garam hidroklorida, diamorfin hidroklorida. Heroin dapat menyebabkan kecanduan. Heroin adalah candu yang langsung diekstrak dari opium poppy. Fungsi sebenarnya adalah untuk menyembuhkan orang yang ketergantungan pada morfin. Setelah diinjeksi langsung ke dalam darah, heroin akan berubah menjadi morfin dan langsung tersebar ke seluruh tubuh memalui peredaran darah. Seperti endorfin, lainnya heroin yang menjadi morfin menyebabkan efek euforia, kesenangan dan bahkan disebut sebagai rasa “orgasme”.

Jenis Obat Psikotropika

1. Obat antipsikotik

Obat antipsikotik dipercaya memblokir reseptor dopamin di otak yang dianggap terlalu aktif pada pasien psikosis yang menunjukkan gejala delusi dan halusinasi. Namun obat antipsikotik dapat menyebabkan tremor, kejang otot dan kegelisahan. Efek samping lainnya adalah tardive dyskinesia, gerakan tak terkendali pada lidah, bibir, mulut, lengan dan kaki secara permanen. Antipsikotik juga dapat mempengaruhi metabolisme seseorang. Obat ini seringkali menyebabkan kenaikan berat badan yang signifikan dan dapat meningkatkan risiko diabetes.

2. Obat antidepresan

Obat Antidepresan dikonsumsi untuk mengobati gejala gangguan depresi mayor. Diperkirakan sekitar 7-8 persen populasi manusia mengidap depresi. Mayoritas antidepresan yang dapat ditemukan di pasaran termasuk golong SSRI yang secara spesifik menarget kadar seronin di otak. Akan tetapi antidepresan bukan tanpa efek samping. Badan Pengawasan Obat dan Makanan (FDA) Amerika Serikat memberikan peringatan paling keras bagi obat antidepresan golongan SSRI karena dapat meningkatkan risiko keinginan bunuh diri pada anak, remaja dan dewasa awal. Selain itu, efek samping lainnya dari antidepresan meliputi gangguan tidur, agitasi, perubahan nafsu makan dan disfungsi seksual.

3. Obat ADHD

ADHD (Attension Deficit Hyperactivity Disorder) merupakan salah satu gangguan yang paling lazim ditemui pada anak. Gejala dari gangguan ini termasuk peningkatan aktivitas motorik yang cenderung berlebihan, emosi yang meluap, hingga kesulitan mengendalikan perilaku. Untuk pengobatan ADHD, obat yang paling sering digunakan berjenis stimulan yang meningkatkan dopamin, zat terkait dengan kesenangan, gerakan dan perhatian. Efek samping dari penggunaan stimulan terkait dengan gangguan tidur dan penurunan nafsu makan.

4. Obat anti-ansietas

Obat anti-ansietas digunakan pada pasien yang memiliki kecemasan abnormal. Lima tipe gangguan kecemasan antara lain: gangguan obsesif-kompulsif (OCD), serangan panik yang berulang dan tak terduga (panic disorder), fobia sosial dan gangguan stres pasca trauma. Selain antidepresan, obat penghilang kecemasan seperti Benzodiazepin sering digunakan kepada pasien pengidap gangguan kecemasan. Akan tetapi antidepresan dan benzo harus diberikan dalam jangka waktu yang singkat karena memiliki risiko keteragantungan. Efek samping lain dari Benzo adalah rasa kantuk, penglihatan kabur dan gangguan tidur seperti mimpi buruk.

5. Penstabil suasana hati

Obat penstabil suasana hati sering digunakan untuk pengidap bipolar. Pada pasien bipolar, perubahan suasana hatinya terjadi begitu cepat. Di satu sisi sangat tinggi dan terkadang sangat rendah. Efek samping dari obat penstabil suasana hati meliputi pikiran untuk bunuh diri, gangguan pada tiroid serta penambahan berat badan.