blog

Sleeping Beauty, Pengidapnya Bak Putri Tidur di Negeri Dongeng

Apakah kalian pernah mendengar tentang dogeng putri tidur? Jika sebagian dari kalian menganggap itu hanyalah sebuah dogeng biasa yang tidak mungkin akan terjadi di dunia nyata, kalian salah besar. Sebab, putri tidur emang benar adanya. Beberapa waktu yang lalu, media sosial digemparkan dengan postingan salah satu pengguna facebook mengenai seorang gadis yang tertidur selama berminggu-minggu. Tidak hanya itu, seorang gadis remaja berusia 15 tahun bernama BLouisa Ball juga dijuluki ‘Sleeping Beauty’ karena sempat tertidur dalam waktu yang cukup lama.

Seiring berjalannya waktu, diketahui ternyata itu semua terjadi akibat sindrom Kleine-Levin, yaitu penyakit yang membuat hormon tidur kita terus bekerja. Itu adalah sebuah penyakit yang lebih tertuju pada keanehan sikap si penderita. Kleine-Levin juga sering disebut sebagai Sleeping Beauty, yang merupakan penyakit syaraf langka, dimana penderita tidak bisa mengontrol rasa kantuknya.

Tidur merupakan cara alami tubuh untuk membiarkan organ beristirahat dan kembali memulihkan fungsinya dengan tidur yang cukup tubuh akan kembali bersemangat. Intinya tidur merupakan suatu keharusan yang wajib kita penuhi dengan normal jam tidur 7 atau 8jam sehari sebagai waktu yang paling ideal. Nah, berbeda dengan mereka yang mengidap sindrom Kleine-Levin, mereka akan tidur lelap hingga berjam-jam, berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu tergantung tingkat keparahannya.

Lalu, Apa Itu Sebenarnya Sleeping Beauty?

Sindrom Kleine-Levine adalah suatu penyakit neurologis langka yang uniknya biasa diderita oleh pria dewasa, sekitar 70% dari jumlah penderita sindrom sleeping beauty adalah laki-laki. Karakterisitik utama dari penyakit ini adalah berlangsungnya periode di mana penderitanya tidur dalam jangka waktu yang lama, kira-kira lebih dari 20 jam per harinya. Periode ini dapat berlangsung selama beberapa hari hingga beberapa bulan. Tetapi setelah periode tersebut berakhir, penderita sindrom sleeping beauty bisa beraktivitas biasa seperti layaknya orang normal.

Kasus pertama dari sindrom ini dilaporkan oleh Brierre de Boismont pada tahun 1862. Kasus ini muncul beberapa dekade sebelum timbulnya epidemik encephalitis lethargica. Tetapi baru pada tahun 1925 kasus hiperinsomnia yang terus menerus berulang dikumpulkan dan dilaporkan oleh Willi Kleine di Frankfurt.

Max Levin kemudian melanjutkan penelitian terkait sindrom sleeping beauty dengan menambahkan beberapa teori yang mendukung. Sindrom sleeping beauty kemudian dinamai Kleine-Levin Syndrome oleh Critchley pada tahun 1962 setelah ia sebelumnya memantau 15 kasus terkait gejala-gejala sindrom sleeping beauty yang muncul pada prajurit-prajurit Inggris yang bertugas pada perang dunia II.

Bagaimana Kelainan Sindrom Ini Bisa Terjadi?

Sampai saat ini belum ditemukan secara pasti apa penyebab dari kelainan ini. Akan tetapi spekulasi para dokter menyebutkan bahwa patologi penyakit ini menandakan adanya malfungsi di daerah hipotalamus dan thalamus (daerah otak) yang di mana bagian ini berfungsi sebagai pengatur pola tidur, nafsu makan dan dorongan seksual.

Gejala mirip flu itu sering terjadi pada orang yang mengidap sindrom Kleine-Levin sehingga faktor penyebab autoimun digadang-gadang sebagai salah satu penyebabnya. Infeksi juga dianggap menjadi salah satu pemicu bagi orang-orang yang mempunyai kecenderungan genetik terhadap kelainan tersebut.

Dr Amrapali Patil, pakar kesehatan menjelaskan mengenai faktor penyebab KLS. “Kelainan ini ditandai dengan ketidakseimbangan neurokimia hipoperfusi pada area otak tertentu dan diketahui memiliki latar belakang genetik,” ujar Dr Amrapali. Pada awal KLS, pasien menjadi semakin mengantuk dan kemudian mereka tertidur selama berjam-jam (hypersomnolence). Kadang mereka akan terbangun hanya untuk makan atau pergi ke kamar mandi.

“Episode tersebut akan berlanjut selama berhari-hari, berminggu-minggu dan kadang sampai berbulan-bulan,” lanjutnya. Untuk mencegah kelainan ini, Dr Preeti mengatakan jika tidak ada pengobatan pasti untuk KLS. Meskipun begitu, dokter akan tetap menuliskan resep untuk meringankan gejalanya. “Stimulan bisa melawan efek hipersomnia tapi hal ini tidak mengurangi gangguan kognitif terkait,” ucap Dr Preeti.

Penderita Klenie-Levin lebih cenderung menyerang pria dibanding wanita dengan perbandingan rasio 3:1. Dengan rata-rata usia 10 hingga 20 tahun, namun tidak menutup kemungkinan jika pada usia selain itu akan mengidap kelainan KLS. Selain itu faktor ras juga sangat berpengaruh terhadap perkembangan penyakit ini yakni pada ras Kaukasia dan ras Yahudi.

Kenapa kalangan remaja saja yang rentan terhadap penyakit ini?  Lagi-lagi survey membuktikan bahwa Sleeping Beauty Syndrome atau Kleine Levin Syndrome (KLS) banyak diderita oleh remaja laki berumur 10-20 tahun. Dalam sebuah episode KLS, mereka sanggup tidur 18 jam hingga satu minggu full. Tapi pola ini tidak permanen alias on and off.

Dalam setahun episode KLS dapat muncul 3-4 kali. Bisa datang tiba-tiba tanpa diundang yang biasa dipicu oleh kondisi psikologis seperti faktor stres, depresi dan lain-lain. Pada awalnya penderita mempunyai pola hidup wajar dengan jam tidur yang normal pula. Ketika penyakit ini datang semua kegiatan dalam hidupnya akan terhenti. Penderita KLS mulai merasa mengantuk, tidur dan akhirnya tidur panjang tidak bangun-bangun lagi.

Pengobatan Bagi Pengidap Sindrom Sleeping Beauty

Dibandingkan dengan terapi obat, pendampingan dan penanganan di rumah saat mengalami sindrom sleeping beauty muncul jauh lebih ditekankan. Beberapa jenis obat dapat dikonsumsi tetapi tujuannya bukan untuk mengobati sindrom tersebut melainkan hanya mengurangi gejala-gejalanya.

Obat-obatan berupa stimulan seperti amfetamin, methylphenidate dan modafinil dapat digunakan untuk mengatasi rasa kantuk berlebihan yang ditimbulkan sindrom sleeping beauty. Akan tetapi jenis obat-obatan tersebut dapat meningkatkan iritabilitas penderita dan tidak berpengaruh untuk mengurangi abnormalitas kemampuan kognitif yang terjadi saat episode berlangsung.

Olah sebab itulah pengawasan dan penanganan di rumah selama penyakit itu terjadi sangatlah penting. Penderita akan mengalami kesulitan mengurus dirinya sendiri sehingga bantuan orang lain sangatlah dibutuhkan. Setelah satu episode berakhir, penderita biasanya tidak akan mengingat apa yang terjadi selama episode sindrom berlangsung. Biasanya episode-episode sindrom sleeping beauty ini lama kelamaan akan berkurang durasi dan intensitasnya. Proses ini dapat berlangsung selama 8 hingga 12 tahun lamanya.

Keanehan Sindrom Kleine-Levin

Seperti yang kita ketahui bahwa hampir semua penyakit pasti memiliki gejala terlebih dahulu, beda dengan sindrom Kleine-Levin yang tidak memiliki gejala sedikitpun bahkan tidak memiliki penyebab yang pasti mengapa penyakit ini bisa menginfeksi tubuh. Keanehan selanjutnya yakni ketika bangun penderita akan kehilangan ingatannya, banyak atau tidaknya ingatan yang hilang tergantung dari berapa lama penderita tidur. Selain itu, penderita sangat sensitif terhadap suara dan cahaya ketika bangun.

Meski terlihat sepele gangguan tidur yang dialami penderita membuat kehidupan sosialnya terancam buruk, seperti karir yang akan menentukan masa depannya. Bayangkan saja, dalam satu hari penderita akan mengalami siklus tidur lebih dari 20 jam, dalam satu hari kita memiliki 24 jam, itu artinya penderita hanya mengalami masa sadar selama kurang lebih 4 jam.

Belum lagi siklus tidur penderita yang lebih parah yakni bisa mencapai waktu berhari-hari bahkan berminggu-minggu. Salah satu cara kita untuk memiliki tubuh sehat tidak lain dengan memaksimalkan jam tidur, kekurangan porsi tidur menyebabkan tubuh mudah terserang penyakit dan lemah, namun tidur melebihi batas waktu yang berlebihan bukankah ini tidak wajar dan sangat menyimpang?

Kelainan sindrom ini juga dianggap nyeleneh oleh beberapa pakar ahli lumayan berbahaya. Pasalnya tidak hanya mengalami gejala tidur yang lama namun juga berpengaruh pada mentalnya. Umumnya saat mereka bangun, para pengidap Kleine-Levin ini seolah linglung karena memang sulit membedakan mana dunia nyata dan mana mimpi. Selain itu kadang terjadi disorientasi sehingga sikap mereka bisa saja sangat berubah dibanding saat belum tidur dulu.

Ciri-Ciri Sindrom Kleine-Levin

Penderita sering mengalami tersinggung, lesu dan apatis. Penderita KLS pasien sering mengalami rasa kebingungan dan mengalami halusinasi. Gejala siklus dapat dialami dalam hitungan minggu bahkan sampai ke bulan diselingi oleh gejala-bebas dalam hitungan minggu atau bulan bahkan sampai tahun. Hipersomnia adalah gejala utama dari KLS dan hadir dalam semua mata pelajaran.

Selama episode KLS, penderita sering menghabiskan 18 jam untuk tidur dalam. Gejala lain adalah perubahan mental saat terjadinya serangan. Penderita sulit untuk bangun dari tidur dan mudah marah atau agresif ketika dicegah untuk tidur. Penderita juga sering menunjukkan penurunan kogniti fdan dapat menunjukkan kebingungan, amnesia, halusinasi, delusi atau mengalami keadaan seperti mimpi.

Sekitar 75% dari pasien mengalami KLS perubahan dalam perilaku makan selama serangan timbul, dengan mayoritas ini menunjukkan megaphagiaatau banyak makan. Laporan menggambarkan pasien yang akan makan apapun yang ditempatkan di depannya tanpa memilih disantapnya sehingga cenderung mengkonsumsi makanan berlebihan. Hampir setengah dari pasien KLS juga mengalami semacam perilaku hiperseksual saat serangan, gangguan bergaulan dan masturbasi.

Perilaku hiperseksual lebih umum terjadi pada laki-laki daripada perempuan. Diagnosis KLS sangat sulit karena tidak ada gejala yang khas untuk memastikannya. KLS adalah bukan merupakan diagnosis eksklusi, di mana seorang dokter harus terlebih dahulu menghilangkan daftar panjang kondisi lain yang gejalanya hampir sama. Karena hipersomnia adalah gejala utama, banyak pasien yang awalnya dirawat karena gangguan tidur. Penderita KLS pada awalnya dievaluai masalah metabolik termasuk diabetes dan hipotiroidisme.

Beberapa gangguan lain juga mirip gejala KLS, dengan melakukan MRI untuk melihat adanya kelainan lesi otak, tumor, atau peradangan. Penyakit Multiple sclerosis juga memiliki gangguan neurologis yang dapat mirip dengan gejala untuk KLS. Penderita KLS sering keliru didiagnosis dengan gangguan kejiwaan. Periode mengantuk, hyperphagia dan penarikan diri dari lingkungan mirip gangguan depresi berat. Beberapa penderita mengalami periode singkat energi tinggi setelah episode ini yang terlihat seperti episode manik sehingga beberapa pasien yang tidak benar didiagnosis dengan gangguan bipolar.

Terdapat sejumlah gejala atau gangguan persepsi yang mirip gangguan kejiwaan primer. Gangguan Narkolepsi dan sindrom Kluver-Bucy juga dapat mengalami gejala yang serupa. Sebelum diagnosis akhir dapat dibuat, semua kemungkinan lain harus cermat untuk disingkirkan. Penyakit itu tak bisa disembuhkan, namun ada sejumlah terapi yang bisa meningkatkan kualitas hidup penderita.

Ada beberapa kesamaan antara Kleine-Levin syndrome dan gangguan bipolar, sehingga pemberian lithium dan karbamazepin dilaporkan bermanfaat dalam beberapa kasus dalam pencegahan. Gangguan ini harus dibedakan dari siklus terjadinya gangguan tidur selama periode pramenstruasi pada anak perempuan remaja yang dapat dikontrol dengan kontrasepsi hormonal.

Makin hari memang semakin banyak penyakit-penyakit aneh yang mulai bermunculan. Oleh karena itulah kelainan sindrom di atas menjadi warning buat kita semua untuk semakin menjaga kesehatan, baik fisik maupun psikis.